Fantastic Weekend!

Beberapa kali saya coba update blog di Serui tidak pernah berhasil. Tetapi hari ini, entah kenapa, hari ini Serui membuat saya bangga. Dengan mudah saya bisa login ke wordpress. Blog kali ini tidak bakal banyak narasinya, hanya foto-foto yang semoga dapat membuat siapapun yang berkunjung ke blog ini merasa iri. Artikel kali ini ditujukan untuk teman saya Ann, yang menikmati weekend sper fantastic di Serui.

IMG_9111IMG_9325IMG_9476 IMG_9447 IMG_9404 IMG_9380 IMG_9321 IMG_9274 IMG_9247IMG_9155 IMG_8895 IMG_8716 ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? IMG_0559

Sarawandori sesudah hujan

Sarawandori sesudah hujan

Pulau Ambai, Yapen, part II

Saat ini saya tengah menabung sehingga memiliki duit cukup untuk menyewa perahu sehingga saya bisa mengitari kepulauan Ambai. Target saya sebelum Desember 2013 ini mimpi tersebut sudah terwujud. Perkiraan biaya yang akan saya keluarkan adalah sekitar satu juta rupiah. Mahal? Tentu saja, secara ini Papua, hehehe…

Memang tidak murah, tetapi menurut saya, mumpung di sudah di Yapen- Papua, ngga ada salahnya di coba.  Beberapa hari saya habiskan google di Internet untuk mendapatkan info mengenai Ambai, tetapi pencarian saya masih belum membuahkan hasil.  Bagaimanapun saya menemukan beberapa foto Ambai yang sudah di upload ke Panoramio, situs terkait dengan google earth. Saya berharap nanti bisa menambahkan lebih banyak informasi mengenai Ambai.

Untuk sementara, saya menikmati fasilas terbaru Google Earth 3D yang telah membantu saya untuk memetakan dan mendapatkan informasi geospasial mengenai Yapen.  Berikut beberapa foto-foto yang berhasil saya simpan.

Bagi anda yang kebetulan membaca blog ini, dan tertarik untuk jalan-jalan ke Ambai, Yapen, mungkin bisa mempertimbangkan untuk berangkat bareng, pastinya semakin banyak yang ikut biaya semakin murah.

Trus ada apa di ambai? pastinya ambai memiliki gugusan pulau dengan perairan tenang dikarenakan daerah teluk, memiliki pasir putih dan tentu saja terumbu karang.

Pulau di Kepuluan Ambai

Pulau di Kepuluan Ambai

Salah satu pulau dari gugusan pulau ambai, diambil dari Google Earth 3D

Salah satu pulau dari gugusan pulau ambai, diambil dari Google Earth 3D

Kepulauan ambai diambil dari Google Earth 3D

Kepulauan ambai diambil dari Google Earth 3D

Into the Wild

Hal yang menarik tinggal di pedalaman Papua adalah anda memiliki kebebasan untuk dekat dengan alam, termasuk dalam memilih menu makanan.  Memasak dengan api di tepi sungai, pantai, air terjun tentunya menjadi impian banyak orang. Menyantap ikan bakar dengan laut biru terhampar didepan mata membuat makanan yang meski dimasak sederhana terasa seperti makanan resto bintang lima.

Di Bali, berhubung lokasi pantai sudah menjadi daerah wisata komersial anda tidak akan dibolehkan untuk menyalakan api di pinggir pantai karena menggangu pengunjung/ wisatawan. Jikalau anda ingin ikan bakar, anda harus memesan direstoran yang berjejer di sepanjang bibir pantai. Tentunya kenikmatan memakan ikan atau cumi bakar yang dibuat sendiri dengan yang dibeli berbeda.

Di Papua karena masih banyak masyarakat-nya hidup dengan cara tradisional tentunya barbeque di pinggir sungai atau pantai adalah hal yang wajar.   Hampir semua orang disini melakukannya. Ikan segar di bakar dan di santap dengan keladi, pisang, singkong, rebus atau bakar, tak lupa pula sambal.   Jikalau anda berkunjung ke Pantai Papua maka cobalah makan ala Papua, dijamin enak.

Pisang mengkal dan keladi bakar

Pisang mengkal dan keladi bakar

Berendam di pijat air setelah itu makan ikan bakar

Membakar keladi di pinggir pantai

Membakar keladi di pinggir pantai

Ikan baronang bakar, keladi dan pisang bakar disajikan diatas daun

Ikan baronang bakar, keladi dan pisang bakar disajikan diatas daun

Ikan tongkol bakar, daun pepaya, pisang bakar, dimakan dengan sambal matah

Ikan tongkol bakar, daun pepaya, pisang bakar, dimakan dengan sambal matah

Membakar ikan diiringi lantanan suara air

Membakar ikan diiringi lantanan suara air

Singkong Rebus dimakan dengan ikan asap di pinggir sungai

Membakar ikan baronang dengan ranting pohon di pinggir pantai

Papuma: Tergelincir ke Laut (Part 1)

Senja di Kampung Papuma

Cerita perjalanan kali ini adalah kunjungan saya ke sebuah desa kecil di sebelah selatan Yapen, yang disebut Papuma.  Papuma adalah kampung/desa nelayan dimana penduduknya tinggal di rumah panggung diatas air di pinggir pantai.

Saya berkunjung ke Papuma di bulan Januari 2013.  Saya dengan kawan berangkat dengan menyewa perahu motor atau disini disebut Jhonson jam 3 sore lewat. Harga sewa perahu ini untuk satu kali jalan (drop only) adalah 1,5 juta. Harga awal yang ditawarkan adalah 2 juta tetapi setelah tawar menawar akhirnya pemilik perahu setuju di harga 1,5 juta.  Bagi saya yang biasa bepergian di Indonesia barat, harga 1,5 juta untuk dua jam perjalanan adalah harga mahal yang luar biasa.

Dikarenakan takut keburu gelap di jalan, juga karena air laut yang berombak dan bergelombang, bapak pengemudi perahu memacu perahunya dengan kecepatan tinggi, sehingga saya yang duduk di belakang kena percikan air, basah kuyup. Kecepatan tinggi, ditambah gelombak membuat perut saya mulas. Biasanya saya sangat menikmati perjalanan dengan perahu motor, menatap laut biru, merasakan semilir angin, tetapi kali ini, yang saya inginkan adalah cepat sampat ditempat tujuan.

Satu jam berlalu, perahu kami memasuki kawasan dengan pemandangan bukit yang luar biasa indah. Awannya juga bagus.  Setelah mendiskusikan jarak dan waktu, saya meminta bapak pengemudi perahu untuk mengurangi laju perahu.  Saya mules, dingin, dan merasa tidak enak badan. Lagian, dengan menurunkan laju ke laju normal, perahu kami masih akan sampai di jam 5an, tentu saja di jam ini suasana masih terang benderang.

Sedikit tips bepergian di laut, pertama, jikalau perjalanan tidak terlalu jauh dan anda tidak diburu waktu, sebaiknya bepergian dengan perahu motor dibandingkan dengan speeedboat. Dengan perahu motor anda akan merasa lebih rileks dan akan dapat menikmati pemandangan. Anda juga dapat mengeluarkan kamera untuk mengabadikan laut biru luas yang terbentang di depan mata, nyiur melambai, dan bukit hijau berjejer indah di pinggir pantai. Saya tidak tahan bepergian dengan speedboat, hentakan yang kencang, boat yang melompat lompat ketika menerjang ombak, percikan air, dan dijamin, anda tidak akan bisa menikmati pemandangan.

Papuma ditandai dengan titik merah; diambil dari Google Earth

IMG_1029

Bapak Pengemudi Perahu duduk di belakang

Sekitar 30 menit menjelang tiba di Papuma, disebuah pulau kecil tak berpenghuni, perahu motor berhenti untuk istirahat. Teman saya meloncat turun berlari menuju semak kecil di pinggir pulau untuk pipis.  Saya berdiri untuk meregangkan badan. Badan saya penat dan pegal. But, sial, saya menginjak tepian licin, dan here we go, saya jatuh ke laut.  Untungnya saya bisa menyelamatkan kamera. Saya berhasil mengangkat satu tangan keatas setinggi-tingginya sehingga kamera saya tidak ikutan basah.  Terlanjur basah akhirnya saya menceburkan diri, dan saya merasa bugar kembali. Laut biru, dengan gradasi warna mulai dari biru tua, biru muda, laut bening, pulau-pulau kecil kehijauan, sejenak, saya lupa dengan perjalanan melelahkan selama dua jam, saya terpesona, terpana,  indahnya laut Papua.

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Saya tiba disebuah perkampungan diatas air dengan jembatan panjang sederhana terbuat dari kayu yang menjadi penghubung dari satu rumah ke rumah lainnya. Dikarenakan matahari belum terbenam, saya memutuskan untuk jalan-jalan mengitari kampung kecil ini, di kampung ini ada pasar kecil yang menjual sagu, sirih dan pinang. Dan, ternyata matoa sedang musim, dan tentu saja, saya membeli satu kantong.  Matoa adalah tanaman hutan yang buahnya mirip dengan lengkeng, mungkin sejenis lengkeng hutan.

Matahari mulai beranjak ke barat seiring dengan turunnya gelap. Saya kembali masuk ke rumah warga tempat saya menginap. Dari jalan kampung utama, yang terdiri dari tiga buah papan yang dijejer saya harus berpindah ke jalanan dengan satu papan yang bergoyang mengikuti irama air pasang dibawahnya.  Hmm… saya jadi ragu, tiga meter, jarak yang tidak dekat. Saya memberanikan diri melangkah, paling jatuhpun ke bawah.  Saya langkahkan kaki dengan hati-hati, menjaga keseimbangan, dan ketika satu meter mendekati teras rumah, saya melompat, wuiss… lega, berhasil.

Di Mariadei; Menunggu perahu berangkat ke Papuma

IMG_0957

Tempat pemberhentian perahu

IMG_1246

Matahari tenggelam di Papuma

Rumah warga di Papuma

Rumah warga di Papuma

Pantai Bosnik, Biak, Papua

IMG_4005 Setiap kunjungan ke Biak saya tidak pernah beruntung dengan cuaca.  Sudah lebih dari 10 kali kunjungan saya ke Biak dan hampir di semua kunjungan tersebut cuaca sedang tidak bagus; berawan, mendung atau hujan.

Saya sering transit di Biak, namun dikarenakan saya tidak memiliki teman jalan, dan jikalau jalan sendiri biayanya mahal, maka kebanyakan saya stay di hotel. Tetapi lama kelamaan bosan juga dan merasa rugi kalau ngga jalan.

Akhirnya saya memutuskan untuk menjelajahi Biak. Tentunya saya mulai dari tempat yang terdekat yang tidak jauh dari hotel. Tempat yang bisa dicapai dengan ojek dengan biaya sewa ojek biasanya untuk sekitar 4 jam sebesar 100 ribu. Mahal memang, tetapi di Papua saya merasa lebih aman bepergian dengan tukang ojek dibandingkan bepergian seorang diri.

Kali ini saya akan membahas mengenai Pantai Bosnik.  Bagi yang pernah ke Biak, saya yakin, pasti  pada berkunjung ke pantai ini. Bosnik adalah pantai pasir putih dengan air bening yang saking beningnya perahu nelayan yang ditambatkan di pinggir pantai terlihat seperti melayang. Bosnik adalah salah satu pantai yang kerap dikunjungi oleh para penggemar fotografi.

Saya menyukai Bosnik. Pantai yang tenang, damai, dan mempesona. Keindahan yang tidak pernah membuat saya bosan. Kunjungan pertama diikuti oleh kunjungan selanjutnya. Meski berteman dengan tukang ojek perjalanan saya tetap asyik dan berkesan.  Selain keindahan alam yang menentramkan hati, saya memperoleh puluhan foto keren yang nantinya akan menghiasi wall paper komputer saya.

Melihat anak-anak mandi, mencebur, melompat, berenang dan tertawa riang di pantai Bosnik membuat saya iri. Ingin rasanya saya ikut melompat dan berenang bersama mereka. Hanya saja, rasanya akan aneh, jikalau saya berenang dengan anak-anak dengan tukang ojek duduk di pinggir pantai menunggu saya.  Untuk yang ini, pasti ngga keren.

Terkadang saya merasa beruntung,berada di Biak adalah impian bagi mayoritas traveller di Indonesia. Bepergian ke Biak tentunya akan menguras kocek dengan biaya yang jauh lebih mahal dibanding bepergian ke negara tetangga atau destinasi wisata lainnya di Sumatra, Jawa dan Bali. Sementara, saya bepergian di Biak bisa dibilang gratis.  Untuk bepergian ke Jayapura dari Yapen, saya harus transit dulu di Biak. Jadi dapat dikatakan kalau saya liburan satu hari gratis di Biak dengan hotel dibayarin oleh kantor tempat saya bekerja.

Kembali lagi ke pantai Bosnik, Pantai Bosnik terletak di Biak timur, persisnya di Desa Woniki. Jikalau kita dari kota Biak, maka setelah menempuh sekitar 40 menit perjalanan dengan motor anda akan sampai di Biak. Di sebelah kanan anda akan menjumpai rumah penduduk yang berjejer rapat tapi teratur sementara di sebelah kiri jalan anda akan melihat beberapa rumah warga, beberapa rumah kecil tradisional, dan laut biru bening tenang dan Indah.  Jalanan menuju pantai bosnik ini adalah jalan aspal mulus dan cukup lebar.  Dalam perjalanan menuju ke pantai Bosnik anda akan menemui kawasan hijau yang penuh dengan nyanyian suara burung, bahkan jikalau anda beruntung anda juga bisa melihat beberapa diantaranya terbang bebas di alam.

IMG_7959Jikalau Anda ke Bosnik sebaiknya membawa makan dan minum dari kota, karena makanan tidak terlalu banyak disini.  Ada beberapa pedagang kelapa muda, satu butirnya hanya 5,000, dan di Bosnik juga ada pasar tradisional yang menjual beberapa makanan. Di Pasar ini anda bisa menemukan gurita asap dengan singkong rebus dari harga 15,000 hingga 30,000 seporsi. Atau dengan harga yang sama anda juga bisa membeli ketupat atau keladi rebus yang dimakan dengan ikan goreng atau ikan asap plus sambal. Sambelnya dimasak dengan minyak kelapa, pedas dan lezat.

Kawasan Bosnik ini memiliki pantai resmi, dimana, jikalau anda masuk ke kawasan ini anda akan dimintai uang parkir. Di kawasan ini ada beberapa saung dimana pengunjung bisa duduk bersantai. Pondok ini tentunya disewakan warga. Di Bosnik tidak ada penginapan, untuk penginapan, anda masih tetap harus kembali ke kota. Di kawasan pantai Bosnik ini, anda boleh bakar-bakar ikan/ barbeque tetapi anda harus membawa ikan sendiri.  Ikan dapat anda beli di Pasar ikan di kota atau di pasar Bosnik.  Harga ikan di Biak masih lebih murah daripada ikan di Jayapura atau di Yapen.

Penduduk Bosnik ini sangat ramah, murah senyum dan sangat welcome.  Sepertinya mereka sudah terbiasa melihat kunjungan wisatawan, baik lokal  atau manca negara.

Cara Snorkeling yang Baik

Jikalau anda berniat snorkeling di pulau Yapen atau tempat lain di Papua, ada baiknya anda membaca informasi berikut “ petunjuk cara snorkling yang baik” yang disediakan oleh organisasi nirlaba, coral.org.

Berikut adalah rinciannya.

Pastikan anda melatih ilmu snorkeling jauh dari daerah karang.

Pastikan peralatan anda harus pas betul sebelum melakukan snorkeling dekat karang  akan sangat sulit sekali menyesuaikan diri di dalam air.

Bila anda merasa kurang yakin, atau anda merasa belum menjadi seorang snorkler yang berpengalaman, gunakan pemberat sebagai untuk membantu menjaga keseimbangan.

Pelajari secara seksama mengenai seluk-beluk terumbu karang – terumbu karang sangat menarik namun perlu disadari bahwa terumbu karang merupakan sebuah lingkungan yang mudah rusak juga.

Jangan pernah menyentuh karang-karang; meskipun hendak memegangnya secara perlahan. Ada beberapa jenis karang yang dapat menusuk bahkan melukai anda.

Pilihlah tempat jalan masuk maupun jalan keluar untuk mengindari berjalan di atas karang.

Menjaga  jarak yang aman dengan karang sehingga  mampu menghindari sentuhan dengan karang.

Ketahui dengan benar dimana posisi penyeimbang anda dan upayakan jangan sampai menyentuh pasir.

Tetaplah pada posisi  datar di dalam  air ketika anda berada  dekat atau di atas karang.

Belajarlah berenang tanpa menggunakan kedua tangan terlebih dahulu.

Bergerak secara perlahan – lahan dan  dengan hati – hati  di dalam air, santai saat anda berenang dan manfaatkan waktu anda dengan baik.

Ingat,  waktu anda di dalam air cukup mengamati saja tetapi jangan pernah menyentuh.

Seorang Snorkler yang baik adalah snorkler yang tahu saat yang paling baik untuk menikmati terumbu karang dengan tenang, santai dan pada saat menikmati keindahannya selayaknya seorang pencipta karang, menyelam dan membiarkan karang-karang tersebut tidak terganggu.

Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat membuka link berikut: http://www.coral.org/node/121

Pantai Manggaf Ketika Pasang Surut

Pantai Manggaf dilihat dari atas pesawat

Pantai Manggaf dilihat dari atas pesawat

Pantai Manggaf, adalah salah satu tujuan wisata masyarakat lokal yang tinggal di kota Serui, ibu kota kabupaten pulau ini.  Pantai manggaf berjarak sekitar 20 menitan mengendarai mobil/motor berkecepatan sedang dari pusat kota Serui.  Jalanan menuju ke pantai ini sudah beraspal. Untuk mencapai pantai ini anda harus berjalan ke arah kampung Serui laut.  Di daerah sekitar Serui laut anda harus belok ke kanan. Jalanan yang berupa tanjakan ini masih dalam tahap pengerjaan. Di sepanjang jalan sekitar 40 meter ini anda harus hati-hati, jalanan dengan batu karang yang licin bisa membuat anda terjatuh.

Teman Papua saya bilang, kalau di pantai yang merupakan sebuah teluk kecil ini pengunjung bisa berenang.  Terdapat pasir putih di sepanjang bibir pantai. Sekitar 10 meter dari pinggir pantai masih merupakan pantai berpasir halus dengan air yang tenang sehingga menyerupai kolam renang.  Terus ke arah laut melewati pantai pasir putih adalah pantai karang. Sayang terumbu karangnya sudah rusak.  Terumbu karang disini banyak diambil dan dijual.  Terumbu karang juga banyak yang rusak akibat penggunaan bom dan sianida ketika mencari ikan. Sungguh sayang. Bagaimanapun meski tidak banyak, anda masih bisa menemukan satu atau dua terumbu karang dan juga beberapa ikan karang dengan warna biru, hijau, orange, merah, dll.

Bintang laut berwarna merah

Bintang laut berwarna merah

Saya pernah membaca tabloid online yang mengatakan kalau hampir 80% terumbu karang yang berada di Jayapura sudah rusak.  Untuk di Yapen, saya belum mendapat infomasi. Seharusnya kerusakan jauh lebih sedikit dikarenakan lokasi lebih terisolir dan kapal-kapal pencari ikan kebanyak kapal tradisional.

Ketika saya tiba di pantai Manggaf, air laut sedang pasang surut. Sehingga tidak memungkinkan untuk berenang.  Laut surut di Papua disebut dengan nama “meti”.  Meski lagi pasang surut, alam Papua yang indah tidak akan pernah membuat saya kecewa. Saya segera mengeluarkan kamera dan melakukan hunting foto.   Laut surut menyajikan pemandangan yang unik.  Saya menemukan bintang laut merah, biru, coklat, hmmm… saya baru tahu kalau bintang laut itu ternyata berwarna-warni, ada yang merah, biru, dll.  Saya melihat beberapa teripang.  Ukurannya cukup besar.

Teman saya mengajak mencari kerang laut.  Di Papua kerang laut disebut dengan nama “Bia”.

Laut ketika pasang surut

Meski belum terlatih, kami menemukan beberapa bia. Harga bia tidak terlalu mahal, Bia masih lebih murah daripada ikan.  Bia ini dijual beserta dengan kulitnya, dalam keadaan segar. Tetapi ada juga beberapa bia yang ukurannya lebih besar dijual setelah diasap.

Jikalau anda memutuskan untuk menelusuri setiap jengkal laut ketika meti, anda harus sensitif dengan pergerakan air.  Air pasang bergerak cukup cepat. Sehingga jikalau anda jauh berada ditengah laut dan air laut naik anda bisa terjebak. Bagaimanapun yang pasti, baik ketika air pasang maupun ketika air naik, keindahan laut Papua tidak pernah ada matinya.

Updated Juni 2013

Ular Laut di Yapen

Macam-macam ular laut

Di Pantai-pantai di Pulau Yapen anda akan menemukan ular laut.  Ular laut termasuk jarang dan hampir tidak pernah menggigit orang, namun tidak ada salahnya mempelajari lebih jauh mengenai ular laut ini karena bagaimanapun ular ini memiliki kekuatan racun 10 kalilipat dibandingkan kobra. Meski beracun dan berpotensi mematikan tetapi hewan ini hanya menyerang jikalau merasa terganggu, pada prinsipnya hewan ini pemalu dan akan berenang menjauhi manusia.

Berikut adalah petikan dari Wikipedia mengenai ular laut???????????????????????????????

“The Hydrophiinae, also known as coral reef snakes or sea snakes, are a subfamily of venomous elapid snakes that inhabit marine environments for most or all of their lives. Though they evolved from terrestrial ancestors, most are extensively adapted to a fully aquatic life and are unable to move on land, except for the genus Laticauda, which retain ancestral characteristics, allowing limited land movement. They are found in warm coastal waters from the Indian Ocean to the Pacific

Berikut adalah terjemahannya. “Hydrophiinae” juga dikenal sebagai ular terumbu karang atau ular laut, adalah subfamili ular berbisa elapid yang hidup di laut. Meskipun mereka berevolusi dari nenek moyang darat, hampir semuanya telah beradaptasi dengan kehidupan di dalam air dan tidak bisa bergerak di darat, kecuali genus Laticauda, yang mempertahankan karakteristik leluhur, memungkinkan gerakan terbatas di darat. Mereka ditemukan di perairan pesisir hangat dari Samudera Hindia hingga Pasifik “

Berdasarkan penjelasan diatas, kurang lebih ular sepanjang kurang lebih 1,5 meter yang saya lihat adalah genus Laticauda: banded sea krait or yellow-lipped sea krait.

Berbisa tetapi tidak agresif

Hampir semua artikel yang saya baca menjelaskan kalau ular laut pada dasarnya pemalu dan tidak akan menyerang orang-orang, baik yang sedang berenang, menyelam, snorkelling atau memancing. Di salah satu artikel wisata di travel detik.com yang ditulis oleh Desi Puspasari di Kec. Wera, Kab. Bima, NTB terdapat sebuah pulau yang berisi ratusan ribuan ular yang disebut dengan nama pulau ular.  Pulau ini sekarang menjadi daerah tujuan wisata. Dan konon katanya pengunjung bisa memegang dan berfoto dengan ular laut ini. Jikalau anda tertarik anda bisa mencoba, tetapi saya tidak akan mencobanya. Karena bagaimanapun aslinya ular ini adalah ular beracun dengan racun yang lebih mematikan dibandingkan dengan ular kobra. Berani adalah satu hal tetapi prinsip kehati-hatian tetap harus dipertahankan.

Persepsi masyarakat lokal mengenai Ular Laut

Ular laut pertama yang saya lihat, ular berwarna agak kecoklatan menyerupai teripang terlihat jinak dan malas.  Teman saya bilang kalau ular laut itu tidak bahaya, paling ular tersebut hanya membelit kaki tetapi tinggal dilepaskan saja. Sementara untuk ular kedua yang saya lihat, menurut seorang neIMG_7100_1layan lokal yang saya temui bercerita kalau dahulu di laut tidak ada ular berbisa hingga suatu ketika ada ular berbisa dari darat yang melakukan perkawinan dengan ular laut sehingga ulat laut hasil perkawinan tersebut menjadi berbisa. Saya hanya tersenyum. Secara ilmiah saya menyangsikan perkataan si bapak. Tetapi ketika saya menulis artikel ini, dan mengetahui kalau benar bahwa nenek moyang ular laut yang di Indonesia memang berasal dari darat, maka cerita si bapak ada benarnya.

Teman Papua saya juga bercerita bahwa ke laut sebaiknya tidak pakai baju dengan motif loreng yang menyerupai ular laut karena mereka percaya kalau mereka akan dikejar ular laut.

Menurut beberapa warga lokal yang sedang mengumpulkan kerang, mereka tidak pernah mendengar ada orang yang digigit oleh ular laut.  Sehingga sejauh ini mereka menggangap kalau ular tersebut tidak berbaya.  Kesimpulan saya sejauh ini bahwa ular laut tidak berbahaya tetapi prinsip kehati-hatian tetap diperlukan, dan penting bagi anda untuk memiliki kontak emergensi, nomor telefon rumah sakit dan dokter lokal yang bisa dihubungi, just in case.

 

 

Air Terjun di Yapen Papua

IMG_7785Semua orang setuju dengan keindahan alam Papua. Untuk keindahan laut, perhatian masih tertuju ke Raja Ampat. Saya belum pernah ke Raja Ampat sehingga saya tidak bisa berkomentar banyak mengenai tempat itu. Tetapi saya pernah ke beberapa daerah pantai lain di Papua dan daerah tersebut tidak kalah indah.
Saya bukan penggemar olah raga diving, sehingga alam bawah laut tidak menjadi prioritas saya, bagaimanapun saya pencinta ikan warna warni sehingga daerah yang menjadi tujuan snorkling masih menjadi prioritas saya. Hanya saja, bepergian di Papua membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan dikarenakan banyak rute penerbangan yang tidak langsung, bepergian di Papua juga membutuhkan lebih banyak hari dikarenakan anda dipaksa mengalokasikan waktu untuk transit.
Raja Ampat, Biak, dua buah kabupaten di Papua yang sering dibicarakan banyak orang. Terus bagaimana dengan kabupaten kepulauan Yapen, apakah anda pernah mendengar mengenai kabupaten tersebut? Sayangnya tidak banyak informasi mengenai kabupaten tersebut. Banyak orang belum tahu mengenai keberadaan Yapen apalagi potensinya.
Satu tahun yang lalu, saya mencoba mencari informasi mengenai potensi wisata di Yapen, saya hanya menemukan sedikit informasi. Temuan menarik saya adalah hasil tulisan Endro Catur, yang melakukan perjalanan backpacking ke beberapa daerah Papua, termasuk kab. Kepulauan Yapen. Endro Catur menulis mengenai Sarawandori dengan tanjung/telaga berwarna hijau dan mengenai Pulau Ambai dengan keindahan alam bawah lautnya.
Beberapa waktu yang lalu, saya menulis mengenai pulau Ambai. Perjalanan yang sangat singkat dan saya tidak menyempatkan kemana-mana. Saya berangkat sore hari, tinggal di rumah penduduk setempat, dan esoknya kembali ke kota Serui.
Sebagai pencinta petualang, hati saya tergerak untuk menjajaki keindahan alam di Yapen, hanya saja, saya tidak mungkin jalan-jalan sendiri. Baru setelah hampir satu tahun, saya mulai menemukan teman jalan. Dan dengan teman tersebut akhirnya keindahan alam Papua tidak hanya bisa saya pandangi namun juga bisa saya rasakan; melintasi hutan tropis Papua dengan mengendarai sepeda motor, berenang di pantai berair tenang dengan ikan warna warni, atau mendayung perahu dengan hamparan bukit hijau dan suara latar nyanyian burung. Berpetualang di Papua tidak akan ada habisnya.
Nanti saya akan mencoba meluangkan waktu menulis lebih banyak mengenai tempat-tempat wisata di Yapen, terutama wisata pantainya. Saat ini, saya akan mencoba menuliskan sedikit wisata non Pantai. Sungai dan Air terjun.
Jikalau Anda pernah jalan-jalan di Biak, tentunya anda mengenal air terjun Warsa. Di Yapen, ada beberapa air terjun yang tidak kalah cantik dan tidak kalah besar. Air terjun di Kampung Maria Rotu adalah tempat yang wajib anda explore. Tetapi tempat ini cukup jauh dari kota Serui. Jika anda menggunakan motor dengan kecepatan sedang, anda akan membutuhkan kurang lebih dua jam. Bagi anda yang baru berkunjung di Yapen, mengendarai sepeda motor di Yapen akan menghadapi tantangan tersendiri: Jalanan kecil, sempit, berkelok-kelok dan turun naik, bisa jadi anda membutuhkan waktu berkendaraan yang lebih lama. Air terjun ini terletak di arah sebelah kiri. Dari jalan raya, anda harus berjalan kaki ke dalam. Disini ada dua kali dengan dua air terjun utama. Air terjun laki-laki dan air terjun perempuan. Air terjun laki-laki lebih mudah di jangkau dibandingkan dengan air terjun perempuan. Untuk mencapai kali di air terjun laki-laki hanya membutuhkan jalan kaki selama 10 menit. Dari kali anda harus menyusuri batu sungai yang besar dan licin kearah hulu untuk bisa melihat air terjun.Tetapi air terjun disini terbilang kecil tetapi berjumlah banyak.
IMG_7678Air terjun kedua adalah air terjun perempuan. Dari jalan raya anda harus menerobos semak belukar, kemudian naik ke bukit dengan hutan perawan yang lebat. Trekking naik untuk mencapai air terjun terbilang susah: terjal dan licin. Jikalau anda terbiasa trekking mungkin anda hanya membutuhkan waktu 30-40 menit, namun bagi anda yang tidak terbiasa, anda akan membutuhkan waktu lebih kurang satu jam, bahkan lebih. Tetapi ketika mencapai air terjun, rasa lelah anda akan sirna, karena air terjun yang anda saksikan adalah air terjun spektakuler. Air besar yang terjun dari puncak bukit yang tinggi, dengan ketinggian kurang lebih 20 meter, suara bergemuruh, udara sejuk, dan dengan latar nyanyian suara burung hutan. Bagi anda yang terbiasa tinggal di kota besar berada ditempat ini serasa berada di negri asing, negri asing yang indah menggetarkan hati. Menyaksikan keindahan alam disini akan membuat anda lupa dengan beban pekerjaan, rutinitas hidup yang membosankan dan penuh tuntutan. Untuk sementara, anda akan terbawa ke suasana lain, suasana dimana keindahan dan kedamaian bisa bersatu.
Juli 2013

How to get to Serui Yapen

Penumpang berjalan menuju pesawat Susie Air di Serui

Untuk ke Serui anda harus melalui Biak terlebih dahulu. Dari Jakarta anda bisa naik pesawat Merpati atau Garuda dan turun di Biak. Pesawat dari Jakarta menuju Biak ini akan transit terlebih dahulu di Makassar.

Kalau tidak salah, Lion Air juga sudah mulai membuka rute penerbangan dari Jakarta melewati Biak, 3 kali dalam seminggu.  Tetapi ketika saya coba cek online, tiket Lion jurusan Jakarta- Biak belum tersedia.

Untuk ke Serui dari Jayapura, anda harus terbang ke Biak terlebih dahulu.  Ongkos pesawat dari Jayapura ke Biak dengan Garuda adalah kurang lebih 900 ribuan.  Bisa dibilang kalau Biak adalah pintu masuk ke Serui. Sedangkan dari Biak ke Serui hanya ada satu pesawat, yaitu Susie Air.   Susie Air memiliki 3 kali jadwal penerbangan setiap harinya dari Biak ke Serui dan juga sebaliknya dari Serui ke Biak. Ongkos pesawat Susie Air ke Serui adalah sekitar 800 ribuan.  Seperti halnya penerbangan dengan pesawat Susie Air lainnya, pesawat Susie Air diterbangkan oleh pilot dari luar (pilot kulit putih).

Untuk terbang ke Biak dari Jakarta, saat ini pilihan hanya dua. Tentu saja harga Merpati lebih murah dari pada Garuda.  Diluar dugaan saya, ternyata di dalam pesawat Merpati, makanan dan minuman panas tetap disajikan.  Pilihan makanan memang lebih sedikit dari Garuda, namun tentunya tetap jauh lebih unggul dari pada Lion Air yang memang tidak menyajikan apapun untuk penumpang, tidak juga air minum. 

Kisaran  biaya daPemandangan dari atas Pesawatri Jakarta ke Biak; harga terendah adalah berkisar 2,4 juta dengan Pesawat Garuda satu kali jalan (diluar tax, total mendekati 3 jutaan).  Sedangkan dengan Merpati, jika beruntung bisa mendapatkan tiket di harga 1,5 juta satu kali jalan (di luar tax, total menjadi 2 jutaan). Baik Garuda dan Merpati hanya memiliki satu kali penerbangan ke Biak dari Jakarta.  Dua-duanya terbang di sekitar jam 10 malam waktu Jakarta, dan tiba esok harinya waktu 6 pagi waktu Papua.

Penerbangan dengan Susie Air dari Biak ke Serui hanya ada di pagi hari (dari Jam 8 hingga jam 12, 3 kali), demikian juga halnya dengan Penerbangan dari Serui ke Biak.

Nomor telfon Susi Air Serui adalah: 0811 211 1153.  Kantor Susi Air di Serui adalah disebelah kanan jembatan tepat sebelum hotel kelapa dua, rumah berwarna putih.

8/8/2012

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.